Universitas Borneo Lestari (UNBL) melaksanakan kegiatan external benchmarking ke Universitas Pasundan (UNPAS) dan Universitas Islam Bandung (UNISBA) pada 16–19 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen UNBL dalam memperkuat tata pamong, tata kelola perguruan tinggi, serta implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) secara berkelanjutan.

Benchmarking dilaksanakan melalui diskusi dan sharing bersama pimpinan serta pengelola berbagai bidang di UNPAS dan UNISBA. Kegiatan ini secara khusus diarahkan untuk memperoleh praktik baik (best practices) dalam pengelolaan perguruan tinggi, implementasi siklus PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan), pengelolaan pembelajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta penyusunan perangkat SPMI yang adaptif terhadap Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi dengan mempertimbangkan aspek mitigasi risiko.

Belajar dari Praktik Baik Universitas Pasundan

Pada kunjungan ke UNPAS, tim UNBL memperoleh berbagai informasi mengenai pengelolaan penjaminan mutu yang terintegrasi dengan tata kelola institusi. Unit penjaminan mutu UNPAS bertanggung jawab langsung kepada jajaran rektor dan terdiri atas unsur SPM serta SPI. UNPAS juga telah mengembangkan 166 indikator kinerja, yang terdiri atas 91 Indikator Kinerja Utama (IKU) dan 75 Indikator Kinerja Tambahan (IKT). Indikator tersebut menjadi bagian yang dievaluasi dalam siklus PPEPP untuk memastikan peningkatan mutu berlangsung secara sistematis dan berkelanjutan.

Salah satu praktik baik yang menjadi perhatian tim UNBL adalah pemanfaatan sistem informasi terintegrasi untuk mendukung proses penjaminan mutu. UNPAS mengembangkan SITU 2.0 yang mendukung pengelolaan Sistem Informasi Akademik, SPMI, serta pelaporan PDDIKTI. Sistem tersebut juga dimanfaatkan untuk mendukung monitoring dan evaluasi serta pemenuhan kebutuhan akreditasi.

Menariknya, pada tahun 2025 UNPAS melakukan perubahan pelaksanaan Audit Mutu Internal (AMI) dari sebelumnya setiap semester menjadi satu kali dalam satu tahun, dengan memperluas cakupan audit melalui integrasi audit akademik dan nonakademik. Evaluasi dilaksanakan secara sistematis dalam rentang Maret hingga Februari tahun berikutnya. Langkah tersebut menunjukkan pentingnya integrasi antara mutu akademik dan nonakademik dalam membangun tata kelola perguruan tinggi yang lebih efektif.

Dalam bidang pembelajaran, UNBL juga memperoleh wawasan mengenai peran LP2AI UNPAS dalam pengembangan kurikulum, inovasi pembelajaran, pelatihan dosen melalui program PEKERTI dan Applied Approach (AA), implementasi MBKM, serta optimalisasi sistem pembelajaran berbasis SSO dan LMS. UNPAS juga menerapkan sistem pengelolaan pembelajaran yang relatif desentralistik sesuai kebijakan masing-masing UPPS dan didukung fasilitas smart classroom untuk pembelajaran hybrid.

Memperkuat Tata Kelola dan Budaya Mutu melalui Benchmarking di UNISBA

Kegiatan benchmarking kemudian dilanjutkan di Universitas Islam Bandung (UNISBA). Dalam kunjungan ini, tim UNBL mendapatkan gambaran mengenai restrukturisasi organisasi UNISBA yang mulai diterapkan sejak Oktober 2025. Struktur wakil rektor yang sebelumnya berjumlah empat disederhanakan menjadi tiga bidang, yaitu Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa); Perencanaan, Sumber Daya Umum dan Keuangan (PSDUK); serta Alumni dan Kerja Sama (Alkerma). Bidang Alkerma juga membawahi Kantor Urusan Internasional (KUI) yang memiliki peran penting dalam mendukung pemeringkatan institusi.

UNISBA juga menempatkan pemeringkatan internasional sebagai salah satu instrumen pengukuran kinerja institusi. Keikutsertaan dalam QS World University Rankings dan THE World University Rankings menjadi bagian dari strategi pengembangan institusi sekaligus upaya meningkatkan daya tarik perguruan tinggi bagi calon mahasiswa.

Pada aspek penjaminan mutu, UNISBA melaksanakan AMI satu kali setiap tahun dengan cakupan UPPS, program studi, serta lembaga/bagian/unit. Audit mencakup seluruh aspek tridarma perguruan tinggi dan visi, misi, tujuan, serta strategi (VMTS). Ketercapaian VMTS diukur melalui capaian IKU dan IKT yang ditetapkan dalam Renstra fakultas maupun universitas. Pelaksanaan AMI tersebut didukung oleh 40 auditor berdasarkan data tahun 2024.

Selain sistem penjaminan mutu, tim UNBL juga mengamati praktik pengembangan sumber daya manusia di UNISBA, khususnya di Fakultas Farmasi. Pengembangan SDM menjadi salah satu prioritas strategis melalui fasilitasi studi lanjut dosen, pelatihan PEKERTI dan AA, sertifikasi dosen, workshop OBE, SPMI dan pembelajaran digital, serta peningkatan kapasitas tenaga kependidikan.

Menjadi Bahan Penguatan SPMI UNBL

Kegiatan benchmarking ini memberikan kesempatan bagi UNBL untuk membandingkan praktik tata kelola dan penjaminan mutu dengan dua perguruan tinggi yang memiliki pengalaman dan praktik baik dalam pengelolaan pendidikan tinggi. Berbagai pengalaman yang diperoleh menjadi bahan untuk mengidentifikasi peluang pengembangan kebijakan, indikator dan target mutu, sistem informasi, pengelolaan AMI, pengembangan SDM, hingga penguatan budaya mutu di lingkungan UNBL.

Melalui kegiatan ini, UNBL diharapkan dapat mengadaptasi praktik-praktik baik yang relevan dengan kebutuhan dan karakteristik institusi, khususnya dalam menghadapi tuntutan regulasi terbaru dan penguatan siklus PPEPP. Benchmarking juga menjadi langkah strategis untuk membangun sistem penjaminan mutu yang semakin terintegrasi, berbasis data, adaptif terhadap perubahan, dan berorientasi pada peningkatan mutu berkelanjutan.

Dengan demikian, kegiatan external benchmarking ke UNPAS dan UNISBA tidak hanya menjadi forum pertukaran pengalaman, tetapi juga menjadi bagian dari upaya nyata Universitas Borneo Lestari untuk terus membangun budaya mutu dan tata kelola perguruan tinggi yang lebih efektif, sistematis, dan berkelanjutan.

Leave a comment